PEMUDA adalah bagian penting penerus masa depan bangsa. Berdasarkan sumber dari BKKBN tahun 2012, jumlah pemuda Indonesia adalah lebih dari 70 juta orang. Di mana setara dengan 13 kali lipat penduduk negara Singapura. Pemuda dengan visi ideologis adalah daya dorong bagi bangsa Indonesia untuk bangkit mewujudkan perubahan hakiki menuju Indonesia dan dunia yang lebih baik.
“Namun sangat disayangkan, potensi yang sangat strategis tersebut telah dibajak oleh para kapitalis sehingga dalam diri mereka tidak tergambar potensi pemuda sebagai agent of changedan iron stock,” tandas Iffah ‘Ainur Rochmah, Jurubicara Muslimah HTI dalam press rilisnya kepada Islampos, Senin (05/11/2012).
Berbagai macam pembajakan tersebut antara lain adalah adanya kebijakan pemerintah yang memudahkan para pemuda mengakses kondom serta pornografi dan pornoaksi dalam berbagai bentuk. Disisi lain, para pemuda dan mahasiswa juga dihadapkan pada orientasi hidup yang materialistis. Sehingga mengakibatkan kepekaan mereka terhadap kondisi masyarakat menjadi tumpul, tidak kritis serta tidak mampu memberikan solusi terhadap permasalahan bangsa, tambahnya.
Di lain pihak. Pemerintah telah menyiapkan program pembangunan untuk para pemudinya. Program ini merupakan program dunia yang diserukan oleh UN-Women yang dikenal dengan nama “Full Participation Age” (Abad Partisipasi Penuh). Program tersebut menyebutkan bahwa ada dua prioritas utama yang harus ada dalam setiap program pembangunan suatu negara yaitu pemberdayaan ekonomi dan politik bagi perempuan yang lebih massif lagi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menanggapi program pemerintah tersebut, Iffah ‘Ainur Rochmah menjelaskan, Abad Partisipasi Penuh Perempuan ini adalah pemberdayaan semaksimal mungkin secara ekonomi dan politik. Sehingga konsekuensinya justru para pemudi tidak akan berpikir optimal untuk menjalankan peran mulianya sebagai ibu bagi anak-anaknya dan ibu bagi generasi bangsa ini.
Kenapa? Karena anggapan bahwa peran sebagai ibu ini tidak memberikan dampak ekonomi dan politik yang signifikan. Karena, kapitalisme memang hanya menghargai sesuatu yang menghasilkan uang. Sedangkan peran perempuan sebagai ibu dan pendidik adalah peran yang tidak mendatangkan uang menurut pandangan kapitalis ini, lanjutnya.
Sehingga perempuan perlu didorong untuk berkontribusi dalam perekonomian negara. Tapi, akibatnya, peran dan fungsi ibu sebagai pendidik generasi terabaikan. Maka tidak asing saat ini kita temukan generasi tawuran, pecandu narkoba dan obat-obatan terlarang, pecandu free sex, generasi pembebek budaya asing, alay dan generasi yang lemah dan miskin solusi masalah bangsa, jelas Iffah panjang lebar.
Sebagai sumbangsih pemikiran guna memberdayakan potensi pemudi itu. Jurubicara Muslimah HTI Iffah ‘Ainur Rochmah menyampaikan, salah satunya adalah diselenggerakannya Konferensi Muslimah Jawa Timur pada hari Ahad, 4 November 2012 dengan tema “Khilafah : Visi Baru Pelajar dan Mahasiswa Menjawab Tantangan Global Pemberdayaan Generasi”
“Pemberdayaan perempuan melalui strategi full participation age ala kapitalisme pada dasarnya menjadikan perempuan sebagai mesin produksi ekonomi semata. Kaum perempuan dieksploitasi di semua lini. Akibatnya, hancurlah tatanan keluarga dan masa depan generasi. Karenanya mesti ada upaya penyadaran agar perempuan muslim tidak terjebak arus kapitalisme yang menipu ini dan kembali kepada fungsi utamanya sebagai ibu dan pendidik generasi” sambung Iffah.
Copas from IslamPos
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon komentarnya yah...