ANAK KITA DAN JAMAN
“Wah sudah besar, ya anakmu?” apa yang kita rasakan ketika
mendengar sapaan itu. Bangga? Rata-rata demikian. Setiap orang tua akan bangga
ketika disapa demikian. Anakku sudah besar, pikir kita.
Tapi pernahkah kita tersentak mendengar sapaan itu, “anakku
sudah besar” Ya anakmu sudah besar. Sudah bertambah usianya. Dan apa saja yang
telah engkau berikan kepada anakmu sepanjang usianya? Tahukah kau peristiwa apa
saja yang telah terjadi sepanjang usianya? Ketika ia tertawa bahagia,
mendapatkan momen yang membungakan perasaannya, hadirkah engkau di sana, turut
tertawa bahagia bersamanya? Dan ketika ia meneteskan air mata duka karena
kecewa dan hatinya luka, apakah engkau ada di sisinya? Engkau jadikan dadamu
sebagai tumpahan air matanya? Dan engkau usap rambutnya yang halus agar ia tahu
bahwa ia tak menangis sendirian, bahwa engkau ada bersamanya? Berempati
merasakan duka dengannya. Seberapa sering itu kau lakukan?
Tahukah engkau dengan siapa saja ia bermain? Apa yang ia
mainkan? Ataukah kau hanya berkutat dengan duniamu sendiri dan merasa anakmu
akan baik-baik saja?
Dan tahu-tahu, anakmu sudah bertambah besar, bertambah
usianya, dan kau tak akan bisa lagi mendampinginya.
Anak kita adalah anak zaman. Ia tumbuh seiring pertumbuhan
zaman, dan usianya mengikuti zaman. Tapi kita, orang tua, semestinya menjadi
guide baginya mengikuti zaman. Kita harus bisa menjadi rembulan yang bersinar
terang bagi anak-anak kita di zaman yang serba gulita. Ketika anak-anak kita
menatap ke angkasa mereka merasa akan baik-baik saja, karena ayah bundanya
selalu bersama mereka. Kalaupun tak bisa senantiasa bersama, tapi cahayanya,
ajarannya, ada dekat dengan mereka.
Tapi sadarkah bahwa orang tua sering ?merampas’ kebersamaan
itu? Kesibukan kita mencari nafkah, aktualisasi diri kita, jadi alasan untuk
membuang kesempatan emas kita untuk bersama mereka. Lalu kita percayakan
anak-anak kita pada orang lain, pengasuh, playgroup, sekolah-sekolah unggulan, dan
teman-teman mereka. Maaf, ini bukan saja pemikiran para eksekutif dan kaum
karir, tapi tak sedikit pasangan suami-istri pegiat dakwah yang berpikiran
demikian.
Sebagian orang tua malah percaya bahwa jika orang tua terus
mendampingi anak maka akan melemahkan mental anak. Lebih baik jika diasuh oleh
orang lain dan dibiarkan main sesuka mereka.
Masya Allah, lupakah mereka dengan pesan Nabi saw. “Al
waladu lil firasy – anak adalah milik orang tua.” Dan bukankah orang tua yang
menentukan keyahudian, kenasranian dan kemajusian anak-anak mereka?
Dan, tahu-tahu anakmu sudah besar. Kau sudah tak bisa lagi
mendampingi mereka, mereka pun berpaling darimu. Apakah kau akan bangga atau
malu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon komentarnya yah...